Ground Breaking Bandara Kulonprogo Mundur

Yogyakarta – Ground breaking Bandara baru di Kulonprogo DI Yogyakarta terancam gagal direalisasikan pada akhir Oktober, terkait molornya pembayaran ganti rugi bagi warga terdampak. Penjabat Bupati Kulonprogo, Budi Antono mengatakan, pembayaran ganti rugi diperkirakan baru akan selesai pada 8 Oktober, sehingga rencana pembangunan pun akan mundur. “Masih ada persoalan dalam pembayaran ganti rugi, beberapa masalah yang kami temui antara lain persoalan administrasi hak waris, sehingga membutuhkan waktu untuk legalitas,” katanya pada Sabtu (1/10). Selaian itu, lanjutnya, menyusul permintaan penangguhan pembayaran ganti rugi aset penggarap Paku Alam Ground (PAG) terdampak bandara yang dikirimkan ke Kanwil BPN DIY. Warga penggarap yang jumlahnya mencapai 450 orang, meminta pembayaran ganti rugi ditangguhkan karena tuntutan mereka terhadap kompensasi dari Pakualaman. Pimpinan Proyek Rencana Pembangunan Bandara Baru Kulonprogo PT Angkasa Pura I, Sujiastono mengakui adanya penangguhan tersebut juga mengakibatkan proses pembayaran tidak sesuai rencana. Sujiastono mengakui hal itu meresahkan karena besar kemungkinan proyek tersebut menjadi molor. “Progresnya kan tergantung proses pembayaran,” ujar Sujiastono. Meski demikian dia berharap BPN akan segera bersikap terkait penangguhan itu. Menurutnya, dalam hal ini PT AP I akan mengikuti rencana BPN. Sementara itu, menanggapi permintaan warga penggarap PAG, Puro Pakualaman akhirnya memutuskan untuk memberikan kompensasi bagi warga penggarap terdampak pembangunan New Yogyakarta Internasional Airport, sebesar Rp 25 miliar. Penghageng Kawedanan Keprajan Puro Pakualaman, Kanjeng Pengeran Haryo (KPH) Suryo Adinegoro menyatakan, kompensasi tersebut tidak terkait dengan urusan tanah milik Pakualaman, dan semata-mata berasal dari kas Pakualaman. Kompensasi itu, kata Suryo Adinegoro, bisa diartikan sebagai pemberian Puro Pakualaman kepada 800 penggarap yang takut kehilangan mata pencahariannya. Nominal yang diberikan terlepas dari tuntutan per meter persegi yang dilontarkan penggarap. Pembagian kompensasi diserahkan kepada kepala desa terkait, dengan alasan pihak Puro Pakualaman tidak tahu secara detail mengenai kondisi para penggarap tersebut. “Ini semata-mata niat baik Puro Pakualaman, karena ganti rugi PAG terdampak bandara baru sebesar Rp 702 miliar juga belum diterima,” ujarnya. Fuska Sani Evani/CAH Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu