Wales Dari 117 Ke 11 Ranking FIFA

Dari Garry Speed hingga Chris Coleman. Beberapa suporter Wales merasa pesimis ketika Gary Speed ditunjuk sebagai manajer anyar tim nasional Wales pada bulan Desember 2010 silam. Speed harus melakukan pekerjaan ekstra keras karena memiliki tim dengan kualitas pas-pasan dan penuaan rata-rata usia pemain. Pada saat itu, Wales berada di peringkat ke-112 dunia. Ada yang harus dirubah dalam tim ini. Speed tidak memiliki pengalaman dalam bidang kepelatihan. Ia bahkan tidak begitu sukses bersama Sheffield United. Menjadi pelatih tim nasional adalah pekerjaan yang berat. Seluruh rakyat Wales mengharapkan seorang pelatih yang dapat memaksimalkan kemampuan pemain-pemain seperti Gareth Bale dan Aaron Ramsey. Pengalaman Speed sebagai pemain membawanya mengubah susunan skuad Wales dari yang sudah menua dan pengalaman diganti dengan sejumlah pemain muda. Ramsey ditunjuk sebagai kapten pada usia 20 tahun. Rezim Speed bersama Wales juga dimulai dengan hasil yang mengecewakan. Mereka takluk 0-3 dari Republik Irlandia, 0-2 dari Inggris dan 1-3 dari Skotlandia. Wales merosot ke posisi 117 ranking FIFA. Banyak yang mulai mempertanyakan apakah Speed orang yang tepat untuk memegang jabatan ini? Hanya waktu yang akan menjawab. Enam pertandingan berikutnya, penampilan Wales begitu meyakinkan. Mereka memenangkan empat pertandingan di antaranya. Wales memainkan sepakbola yang atraktif dan menarik untuk disaksikan. Saat itu, Wales melesat ke peringkat 45 dari 117 dengan kurun waktu tak sampai setahun. Mereka juga dianugrahi sebagai negara yang naik peringkat paling signifikan. Kemudian 27 November 2011, Wales dan dunia dikejutkan oleh meninggalnya Gary Speed. Pukulan telak bagi rakyat Wales dan mereka yang mengenal Speed. Pelatih yang telah meningkatkan martabat negara ini, telah meninggal dunia. Speed ditemukan meninggal dengan cara gantung diri di rumahnya. Padahal ia dikenal sebagai pria yang memiliki kehidupan yang menyenangkan dan juga senang dengan pekerjaannya. Pada 19 Januari 2012 Wales menunjuk Chris Coleman sebagai suksesor. Coleman memiliki pengalaman yang dibutuhkan untuk kembali meningkatkan mental tim ini dan memberikan banyak pendidikan bagi anak asuhnya. Namun kehilangan Gary Speed telah membuat Wales sulit fokus dalam setiap pertandingannya. Mereka gagal lolos kualifikasi Piala Dunia 2014 dengan finis di posisi kelima. Beberapa pihak mengakui betapa sulitnya bertransisi dari masa kepelatihan Speed ke Coleman. Namun tak ada yang tak suka dengan Coleman. Dia adalah Swansea Boy dan dari keluarga kelas pekerja asli Wales. Coleman tidak bertanggung jawab penuh atas kegagalan tim. Tim ini harus move on dari kematian Speed. Usai Piala Dunia, Wales baru bisa bangkit. Memenangkan empat laga dan imbang dua kali dari enam pertandingan. Taktik Coleman tertanam dengan sempurna dalam permainan Wales. Menggunakan formasi 5-3-2, Coleman membuat Ben Davies sebagai bek tengah bersama Ashley Williams dan James Chester. Formasi ini juga memberikan kebebasan untuk pemain terbaik Wales sepanjang sejarah, Gareth Bale. Dengan atau tanpa bola, Bale bebas menunggu di depan dan mengeluarkan kualitasnya. Aaron Ramsey dan Joe Allen kini mengalami peningkatan dalam permainannya bersama klubnya masing-masing. Dan ini memberikan dampak positif bagi skuad Wales. Keduanya didukung oleh seorang jangkar, Joe Ledley sebagai trio lini tengah. Mereka sangat piawai dalam mendistribusikan bola ke Bale. Hasilnya, Bale menciptakan lima gol dan dua assist dalam enam pertandingan terakhir. Bale berada di peringkat ketiga dalam daftar top scorer. Penampilan Wales meningkat dengan signifikan. Wales menjadi tim yang tangguh. Wales kini telah naik 107 peringkat dalam ranking FIFA dalam kurun waktu empat tahun. Mereka juga memuncaki klasemen Grup B kualifikasi Piala Eropa dengan mengungguli Belgia dengan selisih tiga poin, tim yang baru saja mereka kalahkan. Dengan penampilan yang konsisten seperti saat ini, bukan tidak mungkin mereka akan lolos dan mampu berbuat banyak di Piala Eropa 2016 mendatang.

Sumber: Supersoccer.co.id