Dimas Kanjeng Taat Pribadi Dijerat Kasus TPPU

Surabaya – Dimas Kanjeng Taat Pribadi (46), warga Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jatim, baru selesai menjalani pemeriksaan sebagai otak tersangka pembunuhan yang direncanakan atas dua mantan kaki tangannya. Disusul sebagai tersangka kasus penipuan berkedok penggandaan uang dengan korban puluhan ribu orang dengan kerugian ratusan miliar rupiah. Kini memasuki babak baru sebagai tersangka kasus dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU). “Status penetapan tersangka TPPU itu dilakukan Ditreskrimum Polda Jatim, Minggu (20/11) baru lalu. Itu merupakan hasil analisa dan evaluasi serta gelar perkara pemeriksaan terhadap 40 orang saksi,” ujar Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol RP Argo Yuwono, Selasa (22/11). Ia yang segera meninggalkan Jatim karena menjabat Kabid Humas Polda Metro Jaya menggantikan seniornya, Kombes Pol Awi Setyono itu menambahkan, bahwa tim penyidik telah menyita barang bukti kekayaan milik Dimas Kanjeng. Seperti bengkel, supermarket, gudang, beberapa sertifikat sawah, rumah di area padepokan yang lahannya sekitar 6 ha. “Ada dua alat bukti yang kami temukan, dan itu yang dipakai memutuskan (Dimas Kanjeng) sebagai tersangka TPPU,” jelas Argo. Dua alat bukti itu, lanjut Argo, keterangan dari hasil pemeriksaan para saksi dan surat-surat berupa sertifikat tanah. Menurut dia, tim penyidik telah menyiapkan berkas kasus TPPU itu dan dalam waktu dekat, berkas TPPU atas nama tersangka ‘Dimas Kanjeng’ Taat Pribadi segera limpahkan ke Kejaksaaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur. Namun karena masih ada beberapa hal yang perlu dilengkapi, maka waktu pelimpahan perkaranya masih sedikit tertunda. “Begitu berkasnya rampung, langsung dilimpahkan,” ujarnya. Guna mengungkap kasus TPPU ini, kata Argo, tim penyidik memanggil sebanyak 70 orang saksi namun sebanyak 40 saksi memenuhi panggilan dan memberi keterangan. “Yang lainnya memberikan keterangan secara tidak langsung,” katanya sambil menambahkan, bahwa para saksi itu dimintai keterangan soal asal-usul aset dan harta benda milik ‘Dimas Kanjeng’ Taat Pribadi, Pimpinan Padepokan (Bank Gaib) Dimas Kanjeng di Probolinggo. Seperti rumah mewah, motor besar, mobil pribadi, sawah, tanah, bengkel dan mini market dan masih banyak lagi. Barang tersebut sudah distita dan diduga merupakan hasil penipuan dengan modus penggandaan uang. Hingga kini penyidik masih menelusuri aliran dana hasil kejahatan Taat Pribadi yang dijerat pelanggaran Pasal 2 ayat (1) dan Pasal 3 UU RI Nomor 8 Tahun 2010 atau Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Harta kekayaan diduga merupakan hasil dari tindak pidana dan tentang menyembunyikan atau menyamarkan asal usul harta kekayaan. Taat Pribadi yang mengangkat dirinya sebagai Raja Pobolinggo bergelar Yang Mulia Sri Raja Prabu Rajasanagara pada awal 2016 yang lalu di depan komunitas raja dan sultan yang tergabung dalam Asosiasi Keraton dan Kesultanan Indonesia (AKKI). Taat Pribadi yang tidak bisa membaca Al Quran itu mengangkat dirinya sebagai Mahaguru Padepokan yang pengikutnya disebut dengan ‘santri’. Sebagaimana diberitakan, Dimas Kanjeng Taat Pribadi ditangkap petugas gabungan Polda Jatim pada 22 September 2016 lalu karena dituduh sebagai dalang pembunuhan dua pengikutnya yang diangkat sebagai ‘Sultan’ yakni, Ismail Hidayah asal Situbondo dan Abdul Gani, asal Probolinggo. Selain kasus pembunuhan, Dimas Kanjeng ditetapkan sebagai tersangka tindak pidana penipuan dengan modus penggandaan uang yang korbannya puluhan ribu orang (pengikut) dengan angka kerugian ratusan miliar rupiah. Aries Sudiono/YUD Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu